Demo Blog

SKANDAL 'PERAMPOK' UANG NEGARA & HUKUM YANG BANCI

by MembacaMenulisDiskusi on Nov.22, 2009, under


“kalau mau mencuri lebih baik sekalian banyak, jangan setengah-setengah. Makin besar curian anda makin besar pula kesempatan anda untuk tidak terjerat hukum”


Inilah sepenggal majas metafora yang bisa kita gunakan ketika melihat problematika hukum Indonesia. Kali ini hukum Indonesia harus berurusan dengan kasus Bank Century yang menilap uang sebesar 6,7 triliyun. Namun sebelum kita memberikan penilaian terhadap kasus tersebut mari kita simak sejenak ada apa dibalik kasus ini.

Dunia perbankan adalah bisnis yang penuh komplikasi. Masalah yang dihadapi bukan melulu soal teknis keuangan, tapi juga soal kepercayaan dan psikologi publik. Istilah “risiko sistemik” pada perbankan misalnya, kerap terjalin kusut dengan salah kaprah. Adakah sebenarnya risiko sistemik itu? Atau itu hanya istilah semantik yang digunakan politisi dalam menutupi kepentingannya? Kasus lembaga keuangan sejarah krisis sepanjang zaman, menunjukkan bahwa “risiko sistemik” adalah hal yang inheren dalam dunia keuangan. Itu adalah sebuah risiko akan terjadinya instabilitas di pasar keuangan yang dapat merambat ke sektor riil. Saat krisis terjadi, kepercayaan masyarakat runtuh. Saat itu, umumnya Pemerintah turun tangan mem-bail out sistem keuangan, meski misalnya kesalahan dilakukan oleh para pemilik bank.
Skandal bailout Bank Century 6,7 triliyun memang menyedot perhatian publik. Badan pemeriksa keuangan (BPK) sendiri telah menyatakan ada ketidakberesan. Sementara itu pusat pelaporan dan analisis transaksi keuangan (PPATK) menyatakan ada transaksi yang mencurigakan. Hal ini memperkuat sinyalmen mantan wapres Jusuf Kalla yang terang-terangan menyatakan ini adalah perampokan dan kriminal murni. Ditambah ada dugaan atau rumor keterlibatan partai dan orang-orang penting tertentu dalam skandal ini, adalah hal wajar masyarakat ingin mengetahui apakah bailout itu benar atau salah sehingga penyelamatan itu sah dan logis. Kalau seandainya salah siapa yang bertanggung jawab.

Pemahaman yang beredar terkait kasus bank century dan orang yang di anggap paling bertanggung jawab atas pengucuran dana 6,7 Triliyun ini adalah Wakil presiden Boediono dan menteri keuangan Sri Mulyani, dua orang ini adalah kepercayaan SBY. Dengan alasan krisis global kedua orang ini membuat kebijakan yang menyelamatkan Bank Century yang sudah bangkrut. Keduanya berkilah, kalau Century tidak diselamatkan akan berdampak sistemik bagi perbankan nasional. Artinya bank-bank lain akan ikut kolaps dengan kolapsnya Century.
Sekilas argumentasi ini benar. Namun pakar-pakar ekonomi merontokkan argument tersebut, sejak awal bank Century adalah bank bobrok karena dibentuk dari tiga bank bangkrut. Bahkan pembentukannya pun tanpa fit & proper test, Bank Indonesia (BI) dengan mudahnya merestui berdirinya Bank tersebut. Argumentasi kondisi krisis sangat janggal. Kalau benar-benar krisis, seharusnya semua atau sebagian besar perbankan mengalami kondisi yang sama seperti Bank Century. Ini yang tidak terjadi pada bank lain, yang sekarat hanya Century sendirian, lainnya normal-normal saja. Lebih aneh lagi, Bank Indover yang jelas-jelas milik pemerintah dan sebelumnya mengalami gangguan likuiditas bukannya dibantu malah ditutup. Tapi entah kenapa Century yang jelas-jelas milik swasta malah dibantu. Ini artinya mereka lebih memilih “menyelamatkan” Robert Tantula Cs (Pemilik Century) dibanding “Negara Indonesia”.

Dalam surat notulen yang ditandatangani Gubernur BI Boediono dan menteri keuangan Sri Mulyani tersebut, terungkap bahwa pejabat departemen keuangan pada dasarnya tidak setuju atas pendefenisian bank Century sebagai bank gagal yang sistemik dengan mempertanyakan tentang penyelamatan bank Century. Anehnya mereka justru menyetujui bailout tersebut. Dan lebih gila lagi dana yang diajukan dan disetuji DPR hanya sebesar 632 miliyar, namun faktanya triliyunan rupiah dana dari lembaga penjamin simpanan (LPS) yang notabene uang rakyat dikucurkan ke Century sebesar 6,7 triliyun tanpa sepengetahuan DPR.

Berbagai spekulasi pun muncul dengan banyaknya kejanggalan yang terjadi. Dalam surat notulen yang ditandatangani Gubernur BI Boediono dan menteri keuangan Sri Mulyani tersebut, tak heran jika wakil rakyat mengajukan hak angket untuk menyelesaikan kasus tersebut. Bau busuk bailout bank Century ini sebenarnya sudah tercium oleh KPK, namun sebelum menyelidiki kasus tersebut keburuan dijerat oleh Polri dengan dakwaan penyalahgunaan kekuasaan, sehingga penyelidikan kasus tersebut berjalan dengan terseok-seok. Menurut informasi, Bibit-Chandra adalah wakil ketua KPK yang paling getol membuka kasus Bank Century.

Beberapa kalangan pun sudah mendesak agar Boediono dan Sri Mulyani dinonaktifkan tapi usulan tersebut tidak ditanggapi oleh presiden, padahal hal ini dilakukan untuk mempermudah penyelidikan seperti halnya penonaktifan pimpinan KPK Bibit-Candra. Inilah salah satu bukti ada kolaborasi antara mafia hukum, mafia perbankan dan mafia politik dalam pemerintahan Indonesia. Dan sekali lagi sistem pemerintahan Indonesia tidak bisa mengatasi hal tersebut, hal ini merupakan indikator rusaknya sistem sekuler-kapitalistik yang dianut oleh bangsa Indonesia. Begitu mudahnya dana dialirkan kepada para konglomerat ditengah penderitaan rakyat. Dan itu berlangsung berulang-ulang. Ini adalah kesalahan sistem.

Beralih ke kasus lain, masih ingat kejadian Mbak Minah (65 tahun) nenek renta warga Banyumas, tak menyangka ia menjadi tersangka dan duduk dikursi dakwaan pengadilan karena mencuri 3 buah kakao. Saat itu, mbak Minah sedang memanen kedelai di lahannya. Kebetulan lahan itu dikelola PT RSA untuk tanaman kakao. Saat itu mbak Minah melihat buah kakao yang lagi ranum kemudian memetiknya untuk diambil bijinya selanjutnya akan dijadikan bibit, kakao tersebut dia letakkan dibawah pohon kakao dan melanjutkan aktivitas memanen kedelai. Datanglah seorang mandor dan menanyakan siapa yang memetik buah tersebut, mbak Minah terus terang mengakuinya, akhirnya mandor tersebut menceramahinya agar tidak melakukan hal itu lagi. Mbak minah pun minta maaf dan mengembalikan buah tersebut.

Sepekan kemudian, Minah tiba-tiba mendapat panggilan dari Polsek atas tuduhan pencurian Kakao milik perkebunan PT RSA dan dijatuhi hukuman percobaan selama 1,5 bulan penjara. Memang nenek ini bersalah. Namun menyeretnya ke pengadilan oleh kalangan hukum dianggap berlebihan. Apalagi mbak Minah sudah minta maaf dan menyerahkan kakao tersebut. Nilai kakao itu sendiri tak seberapa, nilainya sekitar Rp 2.000,-. Jika aparat penegak hukum punya hati nurani, sebenarnya kasus seperti ini tidak perlu sampai ke meja hijau.

Kembali ke kasus Bank Century, apakah anda melihat adanya keadilan hukum?. Tragedi hukum mbak Minah makin membuka tabir ketidakadilan hukum Indonesia. Hanya gara-gara tiga buah kakao, orang miskin seperti mbak Minah diganjar dengan hukuman penjara. Dengan alasan menegakkan hukum positif, aparat begitu cepat dan tangkas menjerat kaum lemah. Sebaliknya, hukum tiba-tiba menjadi lemah, rumit dan berbelit-belit ketika diberlakukan terhadap para pejabat atau pengusaha. Kasus Anggoro Widjoyo yang mana sudah cukup bukti untuk menjadikan dia tersangka dalam kasus percobaaan menyuap pimpinan KPK. Tapi hingga kini ia tak tersentuh hukum. Disinilah letak ketidakadilan sistem hukum Indonesia, lagi-lagi rakyat kecil harus rela menjadi obyek penderita karena ketidakadilan dan ketidakbecusan negara mengurus mereka, membiarkan para perampok negara bebas berlanglangbuana.

Disisi lain kebobrokan system kapitalisme-sekuler yang sudah bobrok tambah menjadi lebih bobrok lagi dengan kejadian ini. Sistem ini memang selalu menguntungkan pemilik modal besar, sebaliknya selalu merugikan rakyat. Kegagalan menyeret pelaku perampokan uang negara ini ke meja pengadilan, juga semakin menyakinkan kita bahwa pemilik modal yang berdaulat di negara ini. Hukum akhirnya bisa diatur dan dipermainkan berdasarkan kekuatan pemilik modal.

Hai pemuda…hai pelopor perubahan zaman…apa yang bisa anda lakukan melihat kondisi ini? Apakah kalian akan diam lagi seperti biasanya? Apakah dengan diamnya anda merupakan jawaban terhadap kondisi ini? Apakah peristiwa ini tidak mampu menggetarkan hati nurani anda? Apakah peristiwa ini tidak mampu lagi membuat mata anda mengeluarkan air? Apa mungkin semua organ tubuh anda sudah tidak punya hati nurani? Sungguh zaman telah menempa anda menjadi manusia biadab jika anda memilih untuk diam. Keluarlah dari ruang-ruang persembunyian anda, Revolusi ada diluar sana menunggu anda menyambutnya.

Bukan saatnya lagi menyerukan reformasi Jilid II, karena reformasi sudah terbukti tidak membawa kesejahteraan & kebahagiaan. Inilah waktunya untuk menyerukan Revolusi, tinggalkan kapitalisme dan sambutlah sistem mulia yang akan membawa kemakmuran dan keadilan yang sudah terbukti & tercatat dalam sejarah telah memimpin selama 13 abad. Mari kita bangkitkan lagi ‘Raksasa’ yang telah tertidur selama 85 tahun….Saatnya KHILAFAH kembali memimpin dunia.
1 komentar more...

Keadilan hukum adalah kesengsaraan bagi rakyat

by MembacaMenulisDiskusi on Nov.22, 2009, under


“Keadilan adalah mimpi bagi rakyat jelata. Sebaliknya, keadilan mudah dipemainkan oleh mereka yang berduit”


Banyak orang kecil tak berani mengadukan masalahnya ke penegak hokum. Mereka khawatir justru dengan melapor, merak akan kehingan banyak uang. “lapor kehilangan ayam, uang hilang malah kambing” inilah sepenggal pameo yang beredar dimasyarakat. Sudah menjadi rahasia umum, semua pakai uang. Maka bagi mereka yang tidak punya uang, ya harus menerima nasib: dihukum dan dan ditempatkan dipenjara yang pengap. Sebaliknya mereka yang berduit, bisa bebas. Kalaupun dipenjara, masih bisa memilih kamar dan fasilitas layaknya dirumah sendiri.

Belum lagi banyaknya mafia peradilan ditubuh hukum Indonesia. Sepak terjang mafia hukum mudah dirasakan tapi sulit sekali dibuktikan karena sistem hukum yang sangat rusak. Mereka sangat lihai dalam memainkan perkara dan memiliki jaringan yang sangat luas. Ada dikepolisian, kejaksaan, pengadilan, hingga Mahkamah Agung. Adanya sogok, jual beli perkara, itu semua hanyalah gejala atau tanda keberadaanya. Banyak kasus hukum yang sudah punya bukti lengkap tetapi didalam sidang malah kalah, berarti ada mafia hukum yang main disitu. Gejala lainnya yang membuktikan adanya mafia hukum dalam peradilan adalah polisi sering juga memaksa-maksa saksi untuk mengatakan sesuatu. Memaksanya tidak harus pakai pistol tapi lebih halus lagi misalnya membuat saksi menunggu tanpa kejelasan berapa lama, dibuatnya saksi tidak merasa nyaman. Karena ingin cepat beres dan segera pulang, akhirnya saksi menuruti apa yang diarahkan polisi. Kalau kita (baca: mahasiswa) mungkin tidak merasakannya, tapi masih ada contoh kecilnya kalau kita kekantor polisi bikin surat kehilangan KTP atau SIM pasti akan keluar uang banyak. Apakah polisinya maksa? Kan tidak. Cuma kalau tidak memberinya duit, polisinya bilang “ini bukan jam kerja, nanti sore saja”.

Namun contoh diatas hanyalah sedikit dari korupsi kecil-kecilan ditubuh birokrasi kita. Jika ingin lihat para koruptor yang lebih professional alias kelas kakap lebih banyak lagi, targetnya bukan lagi juta tapi sudah sampe Triliyun. Berbagai kasus ditanah air menunjuk hal itu. Eddy Tansil, misalnya, cukong ini bisa melanggeng dari LP cipinang dengan leluasa. Caranya dengan membayar sipir penjara hanya beberapa juta. Pembobol Bapindo sebesar 1,3 Triliyun ini lepas begitu saja ke luar negeri, kabarnya ia ada dicina. Setelah itu giliran Hendra Raharja, kakak kandungnya, yang melarikan diri ke Australia. Padahal bos Bank Harapan Sentosa menilap dana bantuan likuiditas bank Indonesia (BLBI) sebanyak 3,6 Triliyun.

Begitupun dengan kasus Anggodo Widjoyo yang dengan congkaknya bisa mengatur aparat penegak hukum dengan uangnya. Ia pun dibantu para pengacara yang bertindak sebagai makelar kasus (Markus). Semua terungkap sangat gamblang dalam rekaman yang diputar KPK di mahkamah konstitusi (MK). Lebih aneh lagi dalam kasus kriminalisasi anggodo tidak ditahan sebagaimana dengan pemimpin KPK yang ditahan, sehingga banyak muncul sentiment “kalau Anggodo ditahan, dia akan ‘menyanyi’ dan nyayiannya akan lebih keras dari Wiliardi Wizard yang mengaku bahwa dia ditekan untuk membuat berita acara (BAP) dalam kasus Antasari Azhar. Nuansa mafia hukum akan lebih terasa lagi bila melihat ternyata KPK berupaya untuk mempermasalahkan kasus Bank Century yang melibatkan Boediono dan Sri Mulyani (menteri Keuangan).

Terakhir, dalam kasus bank Century, sungguh aneh kasus bailout sebesar 6,7 Triliyun rupiah ini sampai sekarang dibiarkan menggantung oleh pemerintah. Eh…belum-belum kejaksaan Agung yang diharapkan berinisiatif membongkar kasus ini malah sudah menyatakan tidak ada masalah hukum dengan BLBI ke Bank Centuty. Bahkan mereka mulai merekayasa kasus korupsi ini agar tidak menjadi kasus kriminal, yaitu dengan menyatakan bahwa ini dilakukan untuk menyelamatkan Ekonomi nasional, ini merupakan persekongkolan politik tingkat tinggi dipemerintahan kita.
Boediono, Gubernur BI saat itu, sampai saat ini tetap memghirup udara bebas. Bandingkan dengan gubernur BI lainnya yang sama-sama berbuat hal serupa dengan nominal hampir delapan kali lipat dibawahnya. Syahrir Sabirin, ketika menjadi gubernur BI mengeluarkan uang Rp 900 miliyar untuk Bank Bali, bahkan dia tidak mengambil sepeserpun tetapi masuk bui. Kemudian Abdullah ketika menjadi Gubernur BI Rp 100 miliyar juga masuk bui. Tapi aneh dengan Boediono menandatangani 6,7 triliyun tapi malah masuk “Istana”

Semua kejadian ini harus menjadi pelajaran penting bagi kita, hal ini memperlihatkan kebobrokan system dan rezim sekarang. Kita melihat bagaimana instansi pemerintahan yang seharusnya menjadi penegak hokum, justru pelanggar hokum. Korupsi suap-menyuap, makelar kasus, mafia peradilan sudah bersarang ditubuh pemerintahan. Bagaimana mungkin mereka bisa dan dipercaya menegakkan keadilan dan memberantas kejahatan, sementara tubuh mereka penuh dengan penyakit yang menjijikkan itu.

Kondisi sekarang pernah digambarkan Rasullulah Saw. Zaman yang penuh dengan penipu dimana orang tolol diserahi mengurus urusan umat (baca:rakyat). Sabda Rasulullah: “ Akan datang kepada manusia zaman penuh penipu. Ketika itu orang dusta dibenarkan, sebaliknya yang benar didustakan; orangyang berkhianat diberi amanat, dan sebaliknya yang dipercaya dikhianati. Ketika itu yang berbicara adalah mereka orang bodoh yang diserahi untuk mengurusi urusan umat”.

Apa yang terjadi sekarang merupakan bukti kebobrokan dari hukum jahiliyah yang bersumber dari hukum jahiliyah yakni kapitalisme-sekuler. Kapitalisme-sekuler telah mencampakkan agama hanya untuk urusan individual, ritual, dan moralitas. Sementara masalah politik, ekonomi, hukum, dan urusan publik lainnya diserahkan kepada hawa nafsu manusia dengan asas manfaat untuk kesenangan materi. Dimana semua diukur dari materi baik berupa harta ataupun jabatan. Materi pun kemudian menjadi dewa yang menjadi tujuan hidup. Tidak lagi melihat halal dan haram, apakah merugikan rakyat atau tidak, apakah menghancurkan Negara atau tidak, demi mengejar materi semua dilanggar. Bahkan membunuh sekalipun tidak masalah untuk mengejar materi.

Manusia menjadi makhluk buas dan rakus yang mengerikan sekaligus menjijikkan. Inilah pangkal mafia peradilan dan maraknya korupsi. Dalam kondisi seperti itu wajarlah kemudian pemilik modal menjadi raja. Cukong-cukong kapitalis yang memiliki banyak modal bisa mengatur segalanya dengan uang. Mulai dari jaksa, hakim, polisi, sampai aparat KPK bisa diatur oleh orang seperti Anggodo. Tidak sampai disitu, sistem demokrasi melegalkan kebobrokan ini dengan menciptakan Negara korporasi. Negara dimana elit politik dan pemilik modal menjalin hubungan mutualisme yang saling menguntungkan bagi mereka tapi merugikan bagi rakyat.

System demokrasi yang dikenal mahal karena pemilunya membuat pemilik modal sangat berkuasa dan sangat dibutuhkan untuk mendukung kemenangan elit politik. Setelah berkuasa, sebagai balas budi, elit politik baik dilegislatif maupun eksekutif membuat kebijakan yang menguntungkan pemilik modal. Tidak mengherankan kalau di Indonesia lahir UU Migas, UU penanaman modal, UU ketenagalistrikan, dan lainnya yang semuanya berpihak padapemilik modal. UU ini kemudian terbukti menjadi jalan bagi perampokan kekayaan Negara oleh asing sekligus sumber penderitaan rakyat.

Jika kita benar ingin menghilangkan Korupsi dari bumi Indonesia, maka selain membersihkan birokrat yang korup, negeri ini juga harus mengganti sistem yang korup, yaitu sekuler kapitalistik ini. Sebagai gantinya adalah sistem syariah yang secara pasti senantiasa akan mengkaitkan semua derap hidup manusia di semua aspek kehidupan dengan keimanan kepada Allah Swt. Disinilah relevansi kira sebagai kaum intelektual dan pelopor perubahan untuk menyerukan: Selamatkan Indonesia dengan Syariah. Bersihkan Indonesia dari birokrat yang korup.

Apakah yang membuat para bedebah itu makin kuat dan sulit disentuh hukum? Sebenarnya para bedebah itu tidak sekuat yang kira bayangkan sehingga sulit untuk dikalahkan (baca: diberantas). Namun mereka tetap kokoh dikursi kekuasaan itu akibat kesalahan kita sendiri karena lebih memilih diam daripada turun untuk menyuarakan ketidakadilan ini. Padahal kalau kita mau merunut pada reformasi 1998 dimana semua elemen pergerakan mahasiswa turun untuk melengserkan Soeharto yang sangat korup dan otoriter dari kursinya itu bisa terjadi. Jadi apa lagi yang anda tunggu…. Oleh karena itu Ganti Sistem dan Rezim itu merupakan suatu keniscayaan kecuali kita untuk memilih diam. Apakah kita masih mau berharap pada reformasi? Tentu saja tidak karena reformasi sudah mati, tapi jangan terlalu khawatir, masih ada ‘kakak’nya reformasi yaitu REVOLUSI. Sudah saatnya perubahan sistemik dan fundamental untuk Indonesia yang lebih baik.
Wallahu alam bishwab.
0 komentar more...

Hancurnya kedudukan ilmu pengetahuan & merebaknya generasi Mall

by MembacaMenulisDiskusi on Nov.22, 2009, under


(“Berapa SKS kau ambil bro…,” “ 24 SKS fren…”, “kenapa na banyak sekali…saya kira banyak tugas besar dan lab yang ko ambil”. “mau bagaimana lagi…supaya cepat sarjana dan cepat kerja,”. “sessa ko itu nanti, bisa ji ko pelajari semuanya itu dalam 1 semester kah?”.....)


Inilah sepenggal cerita yang sering kita jumpai akhir-akhir ini, ketika pengambilan KRS dimulai. Saat ini, diantara mereka yang masih kuliah di PTN maupun PTS, ‘Cepat lulus’ memang merupakan kata kunci yang sering dikemukakan oleh mahasiswa sekarang dengan alasan yang bermacam-macam, seperti ingin cepat selesai agar tidak terlalu lama di kampus, atau ingin cepat kerja agar bisa membantu orang tua. Tapi alas an yang paling dominan dan sering muncul adalah biaya kuliah yang mahal dan ingin segara kerja menghasilkan uang. Meskipun demikian, mereka tidak dapat menjawab ketika ditanya, “kalau sudah menghasilkan uang lalu mau buat apa?”. Paling-paling, jawaban yang mereka berikan, “ya, paling tidak bisa mengurangi beban orang tua, kasihan kan orang tua kalau harus susah mencari biaya kuliah?”.
Apa pun alasannya, kecenderungan ingin cepat lulus dari bangku kuliah itu menunjukkan bahwa orientasi belajar sekarang memang lebih ke produk atau hasil akhir dan kurang menghargai proses. Padahal, proses mendapatkan ilmu pengetahuan jauh lebih berharga daripada produk pengetahuan itu sendiri. Tidak ada ilmu yang dapat dipetik begitu saja tanpa melalui proses.
Jika kita melihat orang-orang dulu dengan tradisi mencari guru oleh anak-anak muda yang menginjak dewasa untuk mengisi jiwanya dengan belajar kepada seseorang yang dinilai memiliki ilmu. Ilmu yang mereka cari bukanlah ilmu magis atau sihir, melainkan ilmu yang mereka anggap berguna untuk bekal hidup sebagai petani, seperti ilmu mengusir hama, mengusir bala, bencana, dan sejenisnya. Dalam proses pencarian ilmu itu, mereka melalui berbagai tahapan, seperti puasa senin-kamis selama tujuh kali, puasa mutih (tidak makan garam) ngrowot (hanya makan umbi-umbian dan sayur). Setelah itu pada malam ketujuh tidur dihutan, ilmu yang mereka dapatkan dicoba dulu, membawa kayu bakar yang cukup banyak, lalu setelah sampai dirumah diletakkan dengan cara dibanting, dan masih ada tahap-tahap lainnya.
Tahapan demi tahapan dalam proses berguru itu dijalani secara berurutan satu persatu. Bukan berarti kita harus melakukan metode seperti itu untuk mendapat pengetahuan, tapi nilai yang bisa kita ambil adalah kesediaan menjalani tahapan satu demi satu secara berurutan itu adalah proses mencari ilmu. Jadi, mereka menyakini bahwa ilmu hanya dapat diperoleh setelah melalui proses panjang. Ilmu tidak bisa dikuasai begitu saja secara kilat, bila kita cermati proses berguru anak-anak muda kampung itu cukup memakan waktu panjang, ketekunan, kesabaran, ketabahan, keberanian dan perjuangan berat.
Belajar dari orang dulu yang memiliki kemauan belajar yang kuat walaupun belum mempunyai fasilitas pendidikan seperti sekarang ini membuat kita terkesima, namun ketika melihat anak-anak muda (mahasiswa & pelajar) sekarang selalu ingin serba cepat untuk bisa mendapatkan hasil. Mereka tidak mau melewati semua proses yang panjang dan melelahkan, menuntut ketekunan, kesabaran, kerja keras, apalagi perjuangan. Semua ingin serba cepat ibaratnya sekali seduh langsung jadi. Kalau perlu, tidak usah memakai proses sedikit pun, tapi langsung jadi. Ibaratnya bim salabim, abracadabra, vingardium laviosa, jadilah ilmu dan ijasah yang saya nanti-nantikan untuk bekal mencari uang.
Kecenderungan serba instan dalam memperoleh ilmu pengetahuan sekaligus memperlakukan ilmu sebagai proses dan kurang menghargai proses itu, dari hari ke hari semakin kuat. Istilah “instan” yang semula hanya dikenal dalam makanan dan minuman untuk menyebut mie atau susu, secara tiba-tiba menyeruak masuk menjadi kosakata ke dalam segala aspek kehidupan, termasuk kehidupan mahasiswa. Dalam memperoleh ilmu pengetahuan, mahasiswa inginnya sekali seduh langsung jadi atau langsung dapat. Padahal kenyataannya ilmu pengetahuan tidak seperti mie atau susu instan yang sekali seduh langsung dapat dinikmati.
Istilah belajar ‘sks’ (system kebut semalam), untuk menunjuk para mahasiswa yang suka belajar dan menyelesaikan tugas semalam suntuk setiap kali mau menghadapi ujian atau deadline tugas, tapi setelah itu tidak belajar dan kerja tugas lagi, merupakan cerminan dari kuatnya budaya instan tadi. Tidak mengherankan bila indeks prestasi mahasiswa tersebut menjadi bagus, tapi penguasaan ilmu pengetahuan dalam bidangnya tidak sesuai dengan tingginya nilai IP. Berdasarkan pengalaman beberapa alumni, mereka yang memiliki IP cukup tinggi, rata-rata system pembelajarannya lebih terfokus pada mekanisme pembahasan soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, setelah lulus, meskipun nilai IP mereka tinggi, mereka bingung mencari pekerjaan atau tidak menguasai pengetahuan diluar yang mereka pelajari, apalagi tidak punya pengalaman organisasi, lengkaplah gelar kuper.
Bahkan sejujurnya, pengetahuan tidak hanya ditempatkan sebagai produk, tapi sebagai instrument saja, yaitu instrument mencari gelar atau pekerjaan. Tujuan akhir yang ingin dicapai bukan penguasaan ilmu pengetahuan, melainkan selembar ijasah untuk bekal mencari kerja yang menghasilkan uang. Padahal, belajar di institusi pendidikan formal itu sebetulnya proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, pendewasaan diri, pematangan pribadi, berkomunikasi, berorganisasi, dan membangun relasi dengan sesama agar menjadi pribadi yang dewasa, berwawasan luas, berjiwa matang, tidak kuper, kritis, punya ideologi yang kuat, memiliki integritas yang tinggi dan tidak plin-plan.
Belum lagi salah satu fenomena remaja yang khas dan menonjol yaitu lahirnya generasi mall. Mereka menghabiskan waktunya untuk nongkrong-nongkrong di mall-mall sambil mejeng, gossip dan berfantasi tentang kehidupan serba enak dan nyaman. Tragisnya, gaya hidup remaja mall tidak lagi hanya monopoli kaum muda SMA tapi kalangan intelektual sekelas mahasiswa ikut terkena virus generasi mall. Soalnya, jaringan ekonomi kapitalisme begitu dahsyat melakukan ekspansi pembangunan mall ke berbagai pelosok-pelosok negeri ini. Sungguhpun tidak tersedia data kuantitatif dari hasil pemantauan perkembangan gaya hidup remaja mall, namun bila melihat kenyataannya di lapangan menunjukkan kecenderungan terus meningkat. Buktinya, walau jumlah mall yang dibangun semakin banyak, tetap saja selalu dipenuhi kaum remaja yang mejeng (baca: tebar pesona) dengan tujuan yang beragam. Generasi mall kemudian diikuti dengan generasi handphone, yaitu kecendrungan remaja untuk berhaha-ria dengan HP (handphone). Meskipun kondisi ekonomi orang tua sedang krisis, jumlah mereka tetap makin banyak, bahkan cenderung meningkat.
Akibat dari kehadiran generasi ini adalah meningkatnya pola konsumerisme di kalangan remaja sekaligus lahirnya budaya mall; suatu budaya yang mengambil wacana dunia mall; pakaian serba ketat, pocci-pocci, distro (baca:mahal), trendi, suka yang serba instan dan mengembangkan bahasa gaul yang hanya bisa dimengerti oleh kelompok mereka sendiri. Ini konsekuensi logis dari berkembangnya budaya kapitalisme yang serba bebas; sekaligus pencitraan baru, dimana pakaian tidak lagi dilihat secara fungsional, tapi lebih dimaknai pada nilai simboliknya (merek atau harga). Demikian juga pemakaian pada produk lain, seperti HP dan Jam tangan, sebetulnya lebih merupakan simbol modern. HP yang oleh perancangnya dimaksudkan untuk memudahkan komunikasi bagi orang-orang yang sibuk sehingga tidak tentu berada dalam satu tempat yang tetap. Oleh remaja dimaknai sebagai kemodernan, lihat saja banyak HP yang lebih berfungsi sebagai mp3 atau camera dibandingkan komunikasi, itupun jika dipakai komunikasi hanya sms-an atau chat FB yang buang-buang pulsa saja seperti saling ‘gombal’ sampe larut malam. Jam tangan mahal-mahal, tapi datang kuliah atau rapat sering terlambat, kemana-mana bawa HP tapi selalu ingkar janji tanpa memberi keterangan (apalagi kalau disuruh datang rapat).
Inilah kondisi kemahasiswaan kita, sebagai orang yang hidup dizaman sekarang ini tidak sepantasnya kita berdiam diri. Para pendidik kita wajib untuk memikirkan sistem baru untuk membendung bahkan menghilangkan budaya hedonisme ini. Sebagai lembaga kader, hal ini merupakan tantangan besar bagi dept. Pengkaderan untuk melakukan revitalisasi budaya intellectual dan ilmiah mahasiswa dengan mentransformasikan & kristalisasi ideologi ditubuh kader lembaga. (DS)
REVITALISASI PARADIGMA PENGKADERAN MENUJU BUDAYA INTELEKTUAL DAN ILMIAH
0 komentar more...

Pesan Untuk Mahasiswa

by MembacaMenulisDiskusi on Nov.22, 2009, under


Assalmu alaikum Wr wbr
(jarang2 ada artikel yang dimulai dengan salam…tolong dibalas, tapi dalam hati saja)

Sebagai manusia yang ketibang untung dari sejuta umat manusia yang tak beruntung. Kesempatan anda untuk berkreasi diatas cahaya ilmu pada jenjang pendidikan tinggi hanya ratapan pilu buat sebagian teman-teman anda, entah karena Takdir Illahi atau karena Dunia Terlalu Kejam.

Tentu buat anda yang menyelami dunia kampus merasa bahwa ada budaya tersendiri yang khas dan berbeda dengan dunia sekolah, serasa Dunia Lain yang penuh dengan ketabuhan. Kami yakin didalam benak adik-adik pasti telah terbersik serangkaian gambaran tentang Dunia Lain itu dari berbagai sumber informasi yang telah anda peroleh pada pengkaderan-pengkaderan sebelumnya, tapi apakah informasi itu hanya sebatas pengetahuan belaka? Dan tidak memberikan pengaruh apa-apa pada diri anda? Ingat…kitalah yang mengukir dan mewarnai dunia kampus yang polos ini. Namun terlalu sayang, klo’ setelah wisuda kita menyadarinya dan terlalu celaka, klo’ kita selamanya tidak menyadarinya.

Tak adil rasanya jika keresahan hati ini hanya terpendam dalam alam ide kami dan tak berarti apa-apa sekiranya hanya diletakkan dalam lembaran kertas ini yang sebentar lagi mungkin akan kalian ‘remas-remas’ hingga menjadi seonggok kertas selanjutnya dibiarkan tergeletak begitu saja. Namun semuanya akan berbeda jika posisi kami pada hati dan akal anda untuk terus berpikir jernih dan jujur. Kami dengan sambutan hangat bersahabat, didukung wajah yang penuh senyum kebahagiaan siap bersama anda untuk mengukir kampus yang polos ini dengan menorehkan tinta sejarah. Akhirnya semua diakhiri dengan Menanti Sebuah Jawaban.

ABOUT ME
Dengan kekhasan tersendiri yang dimiliki, Kami hadir sebagai bagian integral forum mahasiswa dan membuang sifat eksklusif yang bisa mengurangi daya dobrak gerakan kemahasiswaan dan membuat Mahasiswa takut (phobia) terhadap lembaganya sendiri. Kami yang bervisi jauh kedepan tidak hanya menatap Mahasiswa dikampus sebagai sosok intelek dengan pengetahuan dan keterampilan saintis yang dimiliknya, tetapi mesti menjadi manusia yang proaktif terhadap perubahan dan pengarah kecendrungan ide masyarakat luas dengan berbekal pemahaman intelek yang jernih. Dengan keinginan melakukan perubahan pola pikir dan budaya kampus yang makin hedonis & pragmatis, kami dengan basis pembinaan menitikberatkan aktivitasnya pada pola pembinaan intensif (bukan kursus…he..he..) untuk mengembangkan dan memaksimalkan potensi yang dimiliki mahasiswa agar menjadi manusia yang memiliki akses luas, baik dikampus maupun masyarakat umum.

MENIMBANG DUNIA KAMPUS
Dunia kampus merupakan maket kecil dari kehidupan masyarakat. Apa yang kita temukan dimasyarakat selalu ada didunia kampus. Kalau dimasyarakat ada perkelahian atau tawuran maka dikampus juga ada. Klo’ dimasyarakat ada perjudian, narkoba, miras, dan Pornografi maka dikampuspun ada. Klo’ dimasyarakat terjadi ketidakadilan, eksplorasi kaum lemah oleh sang kapitali
s, politik praktis yang kotor, korupsi, kolusi, dan nepotisme, maka dikampus juga ada. Klo’ dimasyarakat selalu ada individu minimalis dan individu idealis maka dikampus pun ada. Namun suatu hal yang perlu dicatat tidak selamanya apa yang ada dikampus ada dimasyarkat. Anda dapat melihat dalam lembaran sejarah, betapa perubahan underground terhadap status quo yang ada, diakhir decade ini selalu berawal dari dunia kampus. Kenyataan inilah yang menjadikan dunia kampus SERASA DUNIA LAIN buat teman-teman yang masih tabu.

Ibarat perahu, kemana perahu akan dibawa tergantung nakhoda. Warna kehidupan kampus tak dapat dilepaskan dari warna kehidupan masyarakat beserta seperangkat pemikiran, perasaan, dan aturan yang melingkupinya. Ketika masyarakat saat ini cara dan tata hidupnya mengalami amoralitas, maka representasi sederhananya dapat kita temukan dikampus. Tengoklah kehidupan sebagian teman-teman mahasiswa, mulai dari yang urakan, bebas, semau gue, hedonis, permisif, dan punya pikiran liberal, sedikit banyak menghiasi dunia kampus kita. Karena itu ketika aib buruk menerpa kaum intelek ini dunia kampus tidak lagi merasa berdosa, dengan enteng mereka berucap “…begtiu ji memang..mau mi di apa..”, pertanyaannya “..Dimana kemuliaan orang ‘maha’ terpelajar?… apakah anda puas hanya setelah mendapatkan simbol-simbol A & B…merasa berhasil setelah seharian penuh mengumpulkan tanda tangan layaknya seorang fans pada artisnya….? ” Hati nurani anda pasti mengatakan “…TIDAK…”.

Predikat mahasiswa berbeda dengan siswa. Biasanya yang namanya mahasiswa dianggap sudah dewasa, sehingga pihak kampuspun tidak begitu peduli dengan ideologi atau pemikiran yang berkembang dikalangan mahasiswa. Tumbal dari semua ruh kebebasan inspirasi terbesar kehidupan kampus, tentu keadaan ini sangat rawan. Jika di Sekolah anda masih mendapat protektif dari guru anda tapi sekarang jangan harap ada nasihat-nasihat untuk membangun kepribadian anda. Anda bertanya; “klo’ begitu bagaimana mi saya kodong…namaukah kuliah?” jawabannya, tidak usah pusing tujuh keliling, jawabnya ada pada pilihan anda sendiri. Menuntut ilmu (baca:kuliah) adalah kewajiban, namun kita tidak dapat melepaskan diri dari kehidupan sosial yang ada. Kita pun tidak bisa menjadi orang yang cuek bebek. Sebab bebek tidak dapat berbuat banyak, kecuali ngangguk-ngangguk kemana ia dibawa.

Karena itu agar tidak terjerumus dalam kehidupan kampus yang nyeleneh maka harus pintar memilih ‘geng’ (bukan gap2) kampus. Misalnya bila banyak bergaul dengan ‘geng’ mahasiswa yang suka mengkaji ‘kitab-kitab’ Karl Marx cs, cepat atau lambat pikiran kita bakal terpengaruh ide-ide marx yang menganggap ‘agama’ itu candu.

Ingat….Hidup dikampus sangatlah singkat. Sayang seribu sayang jika sekiranya waktu yang singkat ini hanya berkutat dengan kuliah dan praktikum. Satu hal yang perlu dicatat, kita hidup didunia tidak hanya untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk diri sendiri tapi bermanfaat untuk orang lain. Intinya jadikan kampus sebagai tempat menimba ilmu dan berjuang demi kepentingan masyarakat. Penghujung ridha Ilahi kami menunggu anda disimpang kemuliaan.


RENUNGKAN
Sejuta peranyaan yang sering muncul terlintas dalam benak kita, namun sudahkan anda menjawab 3 (tiga) pertanyaan mendasar hidup, untuk mengisi relung-relung akal kita. Sebut saja DARI MANA? UNTUK APA? & AKAN KEMANA?. Mungkin pertanyaan ini pernah hadir dalam diri kita, tetapi kita terlalu cuek untuk menjawabnya, atau mungkin terlalu sakral, atau mungkin terlalu sulit, atau bahkan mungkin kita tidak pernah mau memikirkan jawabannya. Terlepas dari benar salah, ketiga pertanyaan ini mesti kita jawab. Sebab jawaban dari ketiga pertanyaan ini menjadi patron hidup yang kita jalani. Seperti halnya ketika kita meninggalkan kampung, seraya berangkat kekota untuk menuntut ilmu diperguruan tinggi, dalam benak kita telah terbersik apa tujuan dari semua yang kita lakukan. Untuk hal sederhana saja kita memiliki arah tujuan yang jelas, apalagi untuk hal yang sangat penting yakni makna dari pijakan kaki kita dibumi ini.

Mahasiswa adalah sosok yang tidak hanya serta merta mendapat gelar “Maha”, lantaran membayar SPP disalah satu PT. tetapi lebih dari itu mereka adalah sosok yang dengan intelektualitas menjadi lebih maha dari siswa. Mereka maha dalam berbuat, berpikir, bersikap, daya analisis, daya kritis dan ‘bayar SPPnya (just kidding)’. Meskipun sebenarnya kedewasaan tidak lah diukur dari badan yang gede, atau mukanya kelihatan tua. Sebab betapa banyak orang yang kelihatan lebih tua tetapi pikirannya culun/cetek kayak anak-anak, sehingga muncul sesosok anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa dan parahnya mereka yang nantinya akan melanjutkan roda kehidupan bangsa ini.
(jadi anda yang merasa tidak dewasa karena memiliki wajah yang innocens dan imut2, tidak usah khawatir dikatakan tidak dewasa. Sebab kedewasaan ditentukan oleh pola pikir dan pola sikapnya…..he..he….kami menunggu anda)
0 komentar more...

Salam Kenal

by MembacaMenulisDiskusi on Nov.22, 2009, under

M2D Community adalah komunitas yang tak pernah terbentuk,
tapi orang akan terkagum-kagum melihat betapa besarnya kami.

M2D Community adalah komunitas yang tak pernah solid,
tapi orang akan terkagum-kagum melihat betapa militannya kami.

M2D Community adalah komunitas yang tak pernah ada,
tapi orang akan terkagum-kagum melihat betapa merebaknya kami.

maka orang-orang pun akan bertanya,
" apa sih M2D Community itu?"

M2D Community takkan merengek mengajak kalian untuk bergabung bersama kami,
karena pada akhirnya kalian akan tau betapa hebatnya kami
hahaha......09x
SOmbong...(Copas From Hambos)

Kami selalu menyadarkan mahasiswa dengan Tulisan2 yang terbit tdk teratur. Insya Allah apa yang kami lakukan ini selalu mendapatkan rahmat-Nya. Tiada kalimat yang paling mulia selain meninggikan LAILAHAILLAH.
0 komentar more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Links